Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, mulai dari ketidakpastian ekonomi, gangguan rantai pasok, perubahan regulasi, risiko lingkungan, hingga potensi krisis operasional, ketahanan organisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Perusahaan yang mampu bertahan dan tetap tumbuh dalam kondisi kritis adalah perusahaan yang memiliki sistem manajemen keberlanjutan dan keberlangsungan usaha yang matang, terintegrasi, serta adaptif terhadap perubahan.
Memasuki hari ke-4 dan ke-5 rangkaian Capacity Building Training, pada 12 & 13 Februari 2026 yang diselenggarakan di Hotel Timor Dili, sesi pelatihan difokuskan pada tema “Green Business Continuity Management as a Company Defense in Critical Conditions.” Sesi ini dirancang sebagai penguatan sistem pertahanan perusahaan dalam menghadapi kondisi darurat maupun gangguan besar, dengan pendekatan yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dan manajemen risiko strategis.
Konsep Green Business Continuity Management (Green BCM) tidak hanya menitikberatkan pada keberlanjutan operasional saat krisis terjadi, tetapi juga memastikan bahwa respons dan strategi pemulihan yang dilakukan tetap selaras dengan tanggung jawab lingkungan, tata kelola yang baik, serta efisiensi sumber daya. Dalam konteks ini, business continuity bukan sekadar rencana darurat, melainkan sistem manajemen strategis yang terhubung langsung dengan arah perusahaan dan ketahanan jangka panjang.
Pelatihan ini membahas secara komprehensif kerangka kerja Business Continuity Management, mulai dari identifikasi risiko strategis dan operasional, penyusunan Business Impact Analysis (BIA), penentuan Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO), hingga perencanaan strategi mitigasi dan pemulihan. Peserta diajak memahami bagaimana setiap risiko dapat berdampak pada keberlangsungan proyek, stabilitas finansial, reputasi perusahaan, serta kepatuhan terhadap regulasi lingkungan dan tata kelola.
Pendekatan Green BCM menambahkan dimensi keberlanjutan dalam setiap tahap pengelolaan krisis. Artinya, dalam situasi darurat sekalipun, perusahaan tetap mempertimbangkan dampak lingkungan, penggunaan energi dan sumber daya, serta konsekuensi jangka panjang terhadap reputasi dan kepercayaan pemangku kepentingan. Hal ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ekspektasi global terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta terlibat dalam diskusi mendalam, studi kasus, serta simulasi skenario krisis yang dirancang untuk menggambarkan situasi nyata yang mungkin dihadapi organisasi. Skenario tersebut mencakup gangguan operasional, risiko lingkungan, gangguan rantai pasok, hingga tekanan reputasi. Melalui simulasi ini, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengasah kemampuan analitis dan pengambilan keputusan dalam kondisi tekanan tinggi.
Salah satu penekanan utama dalam sesi ini adalah pentingnya membangun organizational resilience, kemampuan organisasi untuk beradaptasi, merespons, dan pulih dengan cepat dari gangguan. Ketahanan organisasi dibangun melalui kepemimpinan yang responsif, struktur pengambilan keputusan yang jelas, komunikasi krisis yang efektif, serta budaya kesiapsiagaan yang tertanam di seluruh level manajemen.
Green Business Continuity Management juga menegaskan bahwa sistem keberlangsungan usaha harus terintegrasi dengan manajemen risiko dan strategi perusahaan. Dengan integrasi tersebut, setiap keputusan strategis telah mempertimbangkan potensi gangguan serta skenario krisis yang mungkin terjadi. Pendekatan ini membantu perusahaan mengurangi ketidakpastian, meminimalkan kerugian, serta menjaga stabilitas operasional dalam situasi yang tidak terduga.
Pelaksanaan training ini semakin melengkapi rangkaian capacity building sebelumnya, yang telah membahas manajemen risiko dan penguatan strategi serta KPI. Keterkaitan antar sesi menjadi jelas, manajemen risiko mengidentifikasi potensi gangguan, strategi dan KPI memastikan arah dan pengukuran kinerja, sementara Green BCM menjadi sistem pertahanan yang menjaga keberlangsungan perusahaan ketika risiko tersebut benar-benar terjadi.
Dengan mengikuti sesi ini, organisasi menunjukkan komitmen dalam membangun sistem pertahanan perusahaan yang tidak hanya reaktif, tetapi proaktif dan berkelanjutan. Green Business Continuity Management menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa pertumbuhan perusahaan tetap terjaga, bahkan di tengah kondisi krisis, serta memastikan bahwa setiap langkah pemulihan tetap selaras dengan prinsip keberlanjutan.
Rangkaian pelatihan ini menegaskan bahwa perusahaan yang tangguh adalah perusahaan yang mampu mengintegrasikan strategi, manajemen risiko, kinerja, dan keberlanjutan dalam satu sistem yang utuh. Melalui penguatan kapasitas ini, diharapkan organisasi semakin siap menghadapi ketidakpastian global dan mampu menjaga stabilitas serta reputasi perusahaan dalam jangka panjang.
MASIH BANYAK RUANG DAN WAKTU UNTUK MELAKUKAN IMPROVEMENT.
PT Ratama Mitra Kualitas – Delivering Real Solutions, Creating Sustainable Impact.
Untuk informasi lebih lanjut tentang program konsultasi dan pelatihan lain dari PT Ratama Mitra Kualitas, silahkan hubungi kami di 0811-1439-980 atau marketing@ratama.co.id






![[Capacity Building Training] - Green Business Continuity Management as a Company Defense in Critical Conditions di Timor Gap E.P.](https://ratama.co.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsAp-2.jpeg)