Keselamatan kerja tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan prosedur, penggunaan alat pelindung diri, maupun tersedianya sistem pengendalian risiko. Lebih dari itu, efektivitas keselamatan juga dipengaruhi oleh bagaimana setiap individu memahami risiko, mengambil keputusan, dan menerapkan perilaku aman dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari.
Sistem keselamatan yang baik membutuhkan keterlibatan seluruh personel, konsistensi kepemimpinan, serta budaya kerja yang mendorong setiap individu untuk berperan aktif dalam mencegah terjadinya insiden.
Sebagai penutup rangkaian program pengembangan kompetensi, TIMOR GAP E.P. menyelenggarakan Capacity Building Day 7 – Training & Workshop Behaviour-Based Safety (BBS) pada 13 Oktober 2026.
Kegiatan ini sekaligus menandai hari terakhir dari rangkaian Capacity Building yang berlangsung selama tujuh hari pelatihan, sejak 5 hingga 13 Oktober 2026, dengan berbagai pembahasan strategis dalam pengelolaan Quality, Health, Safety & Environment (QHSE).
Setelah enam sesi sebelumnya berfokus pada identifikasi bahaya, analisis risiko, pengendalian kontraktor, pengelolaan insiden, evaluasi kinerja, hingga tindakan korektif, pembahasan pada hari ini diarahkan pada salah satu aspek penting dalam keberhasilan sistem keselamatan, yaitu perilaku manusia dan pembentukan budaya keselamatan kerja.
Melalui Training & Workshop Behaviour-Based Safety, peserta diperkuat dalam memahami bagaimana perilaku kerja dapat dipengaruhi oleh kondisi dan sistem organisasi, bagaimana observasi keselamatan dilakukan secara efektif, serta bagaimana komunikasi dan umpan balik dapat mendukung terbentuknya perilaku kerja yang lebih aman.
Behaviour-Based Safety (Membangun Keselamatan dari Perilaku Sehari-hari)
Behaviour-Based Safety (BBS) merupakan pendekatan pengelolaan keselamatan yang berfokus pada pengamatan, pemahaman, dan penguatan perilaku kerja aman melalui keterlibatan aktif personel. Pendekatan ini didasarkan pada pemahaman bahwa perilaku manusia merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi tingkat risiko dalam aktivitas operasional.
Namun, penerapan BBS tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya menyalahkan pekerja ketika terjadi tindakan tidak aman. Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi lingkungan kerja, desain pekerjaan, ketersediaan peralatan, tekanan operasional, kompetensi, komunikasi, supervisi, hingga budaya organisasi.
Karena itu, BBS yang efektif perlu melihat hubungan antara perilaku individu, kondisi pekerjaan, dan sistem pengendalian organisasi. Melalui pendekatan tersebut, organisasi dapat memahami faktor-faktor yang mendorong perilaku aman maupun kondisi yang berpotensi menyebabkan terjadinya tindakan berisiko. Tujuan utamanya bukan sekadar meningkatkan kepatuhan, tetapi membangun kesadaran dan partisipasi aktif seluruh personel dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.
Mengapa Perilaku Menjadi Bagian Penting dalam Pengelolaan Keselamatan?
Dalam aktivitas operasional, berbagai keputusan diambil setiap hari, baik oleh manajemen, supervisor, maupun personel yang melaksanakan pekerjaan secara langsung. Keputusan tersebut dapat berkaitan dengan penggunaan peralatan, penerapan prosedur, identifikasi bahaya, komunikasi risiko, maupun respons terhadap kondisi yang tidak aman.
Meskipun organisasi telah menetapkan prosedur dan pengendalian, efektivitasnya tetap membutuhkan pemahaman dan pelaksanaan yang konsisten. Di sisi lain, perilaku tidak aman juga dapat muncul akibat kelemahan sistem, seperti instruksi kerja yang tidak jelas, keterbatasan sumber daya, kondisi peralatan yang tidak memadai, atau target pekerjaan yang tidak selaras dengan kemampuan pelaksanaan secara aman.
Karena itu, penguatan perilaku keselamatan harus berjalan bersama dengan perbaikan kondisi kerja dan pengendalian risiko. Keselamatan yang berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan kepatuhan terhadap aturan, tetapi membutuhkan lingkungan kerja yang memungkinkan dan mendorong setiap individu untuk bekerja secara aman.
Pendekatan inilah yang menjadikan Behaviour-Based Safety relevan dalam pengembangan budaya QHSE.
Safety Observation (Mengamati untuk Memahami dan Memperbaiki)
Salah satu elemen penting dalam Behaviour-Based Safety adalah Safety Observation, yaitu proses pengamatan terhadap aktivitas pekerjaan untuk memahami perilaku aman, perilaku berisiko, serta faktor yang memengaruhinya.
Observasi keselamatan perlu dilakukan secara objektif dan berorientasi pada pembelajaran. Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan individu, melainkan memperoleh informasi mengenai bagaimana pekerjaan benar-benar dilaksanakan dan apakah pengendalian yang tersedia telah mendukung keselamatan.
Melalui observasi, organisasi dapat mengidentifikasi praktik kerja yang sudah baik untuk diperkuat, sekaligus mengenali kondisi yang membutuhkan perbaikan. Informasi yang diperoleh juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kecukupan prosedur, efektivitas komunikasi, kebutuhan kompetensi, serta hambatan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Dengan demikian, Safety Observation tidak hanya menghasilkan catatan perilaku, tetapi juga memberikan masukan bagi peningkatan sistem keselamatan secara keseluruhan.
Safety Feedback (Membangun Komunikasi yang Mendorong Perubahan)
Observasi keselamatan akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila diikuti dengan komunikasi dan umpan balik yang efektif. Dalam pendekatan BBS, Safety Feedback menjadi sarana untuk memperkuat perilaku aman sekaligus membantu personel memahami risiko dari suatu tindakan.
Umpan balik perlu disampaikan secara konstruktif, berdasarkan kondisi yang diamati, dan berorientasi pada perbaikan. Komunikasi yang efektif tidak hanya menjelaskan tindakan apa yang perlu diperbaiki, tetapi juga membantu memahami alasan suatu perilaku muncul.
Dengan pendekatan tersebut, personel dapat terlibat dalam proses identifikasi solusi dan penguatan pengendalian. Hal ini penting karena perubahan perilaku yang berkelanjutan membutuhkan pemahaman, keterlibatan, dan dukungan lingkungan kerja.
Organisasi yang mampu membangun komunikasi keselamatan secara terbuka akan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan budaya saling peduli dan bertanggung jawab terhadap keselamatan bersama.
Dari Safety Compliance Menuju Safety Culture
Kepatuhan terhadap prosedur merupakan bagian penting dari sistem keselamatan kerja. Namun, organisasi perlu mengembangkan pendekatan yang lebih luas agar keselamatan tidak hanya dijalankan karena adanya pengawasan atau kewajiban formal.
Budaya keselamatan yang kuat ditandai dengan adanya kesadaran terhadap risiko, komunikasi yang terbuka, kepedulian terhadap rekan kerja, serta keterlibatan aktif dalam upaya pencegahan. Dalam konteks tersebut, Behaviour-Based Safety dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat budaya keselamatan melalui observasi, umpan balik, pembelajaran, dan partisipasi personel.
Perubahan budaya membutuhkan konsistensi.
Manajemen perlu menunjukkan komitmen melalui kebijakan, keputusan, penyediaan sumber daya, dan keteladanan.
Supervisor perlu memperkuat komunikasi dan pengawasan yang konstruktif.
Sementara itu, personel perlu didorong untuk mengenali bahaya, melaporkan kondisi berisiko, serta berpartisipasi dalam peningkatan keselamatan. Budaya keselamatan terbentuk ketika keselamatan menjadi bagian dari cara organisasi bekerja dan mengambil keputusan, bukan hanya menjadi kewajiban yang harus dipenuhi.
Mengintegrasikan Behaviour-Based Safety dengan Risk Management
Behaviour-Based Safety memiliki hubungan yang erat dengan pengelolaan risiko. Melalui HAZID, HAZOP, maupun metode penilaian risiko lainnya, organisasi dapat mengidentifikasi bahaya dan menentukan pengendalian yang diperlukan.
Namun, organisasi juga perlu memahami bagaimana pengendalian tersebut diterapkan dalam aktivitas pekerjaan. BBS dapat memberikan informasi tambahan mengenai interaksi antara personel, aktivitas, lingkungan kerja, dan sistem pengendalian.
Sebagai contoh, apabila observasi menunjukkan bahwa suatu prosedur sulit diterapkan secara konsisten, organisasi perlu mengevaluasi apakah terdapat hambatan pada desain pekerjaan, peralatan, metode kerja, maupun komunikasi.
Dengan demikian, hasil observasi tidak hanya digunakan untuk memberikan umpan balik terhadap perilaku, tetapi juga dapat menjadi masukan bagi peninjauan risiko dan penyempurnaan pengendalian. Pendekatan ini membantu organisasi mengintegrasikan Risk Management, Operational Control, Safety Observation, dan Continual Improvement dalam satu kerangka pengelolaan keselamatan.
Workshop Behaviour-Based Safety untuk Memperkuat Kompetensi Personel
Pelaksanaan Training & Workshop Behaviour-Based Safety pada Day 7 diarahkan untuk membantu peserta memahami konsep BBS dan relevansinya terhadap aktivitas operasional. Melalui pendekatan training dan workshop, peserta diperkuat dalam memahami prinsip observasi keselamatan, identifikasi perilaku berisiko, pemberian umpan balik, serta pentingnya menghubungkan perilaku dengan faktor organisasi dan kondisi pekerjaan.
Pembelajaran ini memiliki nilai strategis karena keberhasilan BBS membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengamati. Personel juga perlu memiliki keterampilan komunikasi, pemahaman risiko, kemampuan memberikan umpan balik, serta kesadaran untuk membangun interaksi yang positif dalam mendukung keselamatan kerja.
Melalui penguatan kompetensi tersebut, BBS diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan yang mendukung pengembangan budaya keselamatan dan peningkatan efektivitas pengelolaan QHSE di lingkungan TIMOR GAP E.P.
Pelaksanaan Training & Workshop Behaviour-Based Safety pada 13 Oktober 2026 sekaligus menjadi penutup rangkaian Capacity Building TIMOR GAP E.P. selama tujuh hari pelatihan. Program ini mencakup tujuh topik yang saling berkaitan dan mendukung penguatan sistem pengelolaan QHSE.
| Hari & Tanggal | Program Capacity Building |
|---|---|
| Day 1 (5 Oktober 2026) | Training & Workshop HAZID, HAZOP & Bow Tie Analysis |
| Day 2 (6 Oktober 2026) | Training & Workshop Contractor HSE Management |
| Day 3 (7 Oktober 2026) | Training & Workshop Incident Management |
| Day 4 (8 Oktober 2026) | Training & Workshop Risk and Opportunity Management |
| Day 5 (9 Oktober 2026) | Training & Workshop Monitoring, Measurement, Analysis and Evaluation |
| Day 6 (12 Oktober 2026) | Training & Workshop Non-Conformance & Corrective Action |
| Day 7 (13 Oktober 2026) | Training & Workshop Behaviour-Based Safety (BBS) |
Ketujuh topik tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk satu rangkaian pembelajaran yang saling melengkapi. HAZID, HAZOP, dan Bow Tie Analysis memperkuat kemampuan identifikasi bahaya dan analisis risiko.
Contractor HSE Management mendukung pengelolaan risiko dan pengendalian pada aktivitas yang melibatkan kontraktor. Incident Management memperkuat kemampuan organisasi dalam merespons, menginvestigasi, dan mengambil pembelajaran dari insiden.
Risk and Opportunity Management membantu mengintegrasikan pengelolaan risiko dan peluang ke dalam perencanaan serta pengambilan keputusan. Monitoring, Measurement, Analysis and Evaluation memperkuat kemampuan dalam mengukur dan mengevaluasi efektivitas proses maupun pengendalian.
Non-Conformance & Corrective Action membantu organisasi mengidentifikasi ketidaksesuaian, memahami akar penyebab, serta menetapkan tindakan korektif yang efektif.
Sebagai penutup, Behaviour-Based Safety melengkapi rangkaian tersebut dengan memperkuat aspek perilaku, komunikasi, keterlibatan personel, dan budaya keselamatan.
Melalui keterkaitan tersebut, Capacity Building selama tujuh hari memberikan kerangka pembelajaran yang lebih menyeluruh mengenai bagaimana risiko, pengendalian, kinerja, perbaikan, dan perilaku keselamatan saling memengaruhi efektivitas sistem QHSE.
Behaviour-Based Safety sebagai Bagian dari Operational Excellence
Operational excellence tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target produksi, efisiensi, maupun efektivitas proses bisnis. Organisasi juga perlu memastikan bahwa setiap aktivitas dilaksanakan dengan mempertimbangkan keselamatan, kualitas, keandalan, dan keberlanjutan.
Behaviour-Based Safety memberikan kontribusi terhadap tujuan tersebut dengan mendorong keterlibatan personel dalam mengenali risiko, memperkuat perilaku aman, serta memberikan masukan untuk peningkatan sistem kerja.
Namun, efektivitas BBS tetap membutuhkan dukungan sistem pengendalian yang memadai. Budaya keselamatan tidak dapat dibangun hanya dengan meminta personel untuk lebih berhati-hati.
Organisasi perlu memastikan bahwa prosedur dapat diterapkan, peralatan layak digunakan, kompetensi tersedia, dan kondisi pekerjaan mendukung pelaksanaan aktivitas secara aman.
Dengan mengintegrasikan faktor manusia dan sistem pengendalian, organisasi dapat memperkuat fondasi keselamatan sebagai bagian dari operational excellence.
Sebagai perusahaan konsultan manajemen yang berorientasi pada implementasi dan hasil nyata, RMC mendukung pelaksanaan rangkaian Capacity Building TIMOR GAP E.P. hingga hari terakhir. Bagi RMC, pengembangan kompetensi QHSE tidak cukup hanya melalui pemahaman terhadap prosedur, metode analisis, maupun persyaratan sistem manajemen.
Kompetensi perlu dibangun secara terintegrasi agar personel mampu memahami risiko, menerapkan pengendalian, mengevaluasi hasil, melakukan perbaikan, serta menunjukkan perilaku kerja yang mendukung keselamatan dan efektivitas operasional.
Melalui rangkaian Capacity Building selama tujuh hari, RMC mendukung penguatan pemahaman terhadap berbagai aspek penting dalam pengelolaan QHSE, mulai dari metode analisis risiko hingga pendekatan Behaviour-Based Safety.
Melalui pendekatan tersebut, RMC berkomitmen membantu organisasi menerjemahkan pengetahuan dan metodologi menjadi praktik pengelolaan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Pelaksanaan Capacity Building Day 7 – Training & Workshop Behaviour-Based Safety (BBS) pada 13 Oktober 2026 menandai berakhirnya seluruh rangkaian Capacity Building TIMOR GAP E.P. yang berlangsung selama tujuh hari pelatihan.
Program ini menjadi bagian dari upaya penguatan kompetensi personel dalam membangun pengelolaan QHSE yang lebih sistematis, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan berkelanjutan. Melalui tujuh topik pembahasan, peserta memperoleh penguatan pemahaman mengenai pentingnya identifikasi bahaya, pengendalian risiko, pengelolaan insiden, evaluasi kinerja, tindakan korektif, hingga pembentukan perilaku dan budaya keselamatan.
Penutupan program melalui Behaviour-Based Safety memberikan pesan penting bahwa keberhasilan sistem keselamatan tidak hanya bergantung pada prosedur dan pengendalian, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh personel serta komitmen organisasi untuk menciptakan kondisi kerja yang aman.
RMC menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada TIMOR GAP E.P. atas kepercayaan dan kesempatan untuk mendukung pelaksanaan rangkaian Capacity Building, Apresiasi juga kami sampaikan kepada seluruh peserta atas partisipasi, antusiasme, dan keterlibatan selama rangkaian training dan workshop berlangsung.
Kami berharap pengetahuan, pemahaman, dan kompetensi yang diperkuat melalui program ini dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan sistem pengelolaan QHSE, peningkatan efektivitas pengendalian risiko, serta pembentukan budaya keselamatan yang semakin kuat di lingkungan TIMOR GAP E.P.
Bagi organisasi yang ingin mengembangkan kompetensi personel melalui program QHSE Capacity Building, Behaviour-Based Safety, Safety Culture, Risk Management, maupun Integrated Management System, RMC siap menjadi mitra strategis melalui program training, workshop, konsultasi, dan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
Tujuh hari Capacity Building telah berakhir, tetapi proses pembelajaran, penguatan kompetensi, dan peningkatan budaya keselamatan harus terus berlanjut. Karena pada akhirnya, keselamatan bukan hanya tentang bagaimana organisasi mengendalikan risiko, tetapi juga tentang bagaimana setiap individu dan seluruh sistem organisasi berkontribusi dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, andal, dan berkelanjutan.
MASIH BANYAK RUANG DAN WAKTU UNTUK MELAKUKAN IMPROVEMENT.
RMC – Delivering Real Solutions, Creating Sustainable Impact.
Untuk informasi lebih lanjut tentang program konsultasi dan pelatihan lain dari RMC, silahkan hubungi kami di 0811-1439-980 atau marketing@ratama.co.id